Jumat, 16 Agustus 2013

I Hate You Dont Leave Me

 Ini cerita yang gue bikin beberapa bulan yang lalu, maaf aja kalo jelek ^^




Prolog: Aku menyesalinya, tapi aku menyayanginya. Ia meninggalkanku saat aku benar-benar menyayanginya. Saat pertama ia berjanji kepadaku, ia tidak akan pernah meninggalkanku dan akan melindungiku. Saat itu aku percaya padanya dan aku tidak memikirkan kedepannya, namun kini janji itu sudah menghilang ia pergi dan tidak melindungiku lagi. Antara benci dan cinta bercampur satu dalam persaanku saat ini. Aku membencinya saat ia meninggalkanku, aku mencintainya saat ia berada disampingku dan tidak akan meninggalkanku sendirian. Aku berharap ia tahu perasaanku saat ini dan kembali kepelukan ku, namun apakah itu akan terjadi? Apakah ada seseorang yang dapat menggantikannya? Apakah aku akan sendirian? Hanya Tuhan yang tahu dan aku hanya menunggu.



 
Suasana mendung yang menyelimuti langit kota London melengkapi kesedihan seorang gadis cantik berambut ikal coklat ini. Mata biru berliannya itu tidak bisa berhenti meneteskan air mata yang membasahi pipinya. Ia tidak bisa tidur semalaman hanya memikirkan kekasihnya yang sudah 2 minggu mereka break (putus sementara) semua ini memang salah William yang membuat  hati Laurence sakit. William berjanji padanya untuk merubah semua kesalahannya dan berusaha membahagiakan Laurence. Laurence terus menangis dan menangis hanya sepasang boneka mickey dan Minnie mouse yang menemaninya.
“sayang, ayo makan.” Suara lembut seorang wanita membangunkan Laurence dari lamunannya. Laurence cepat-cepat mengelap pipinya dan menghampiri wanita itu yang sering ia panggil Mom. “iya mom.” Tubuh Laurence sangat lesu dan ia hanya tertunduk saat duduk diruang makan, makanan yang begitu lezat tidak membuat Laurence terpancing untuk memakannya, biasanya ia sangat senang saat ada makanan buatan Mom dihadapannya. “ayo makan, sudah lupakan William. Mom tau kamu pasti sakit hati tapi jangan menyiksa diri. Lihat berat badanmu turun.” Kata Mom sambil memegang lembut rambut putrinya. Laurence hanya terdiam dan ia memainkan sendok dan garpu, pandangan matanya kosong dan entah apa yang ia pikirkan. Mom sudah beberapa kali untuk membuat putrinya tenang namun Laurence tetap tidak bisa berhenti memikirkan William. William adalah cinta pertamanya di SMA, William adalah pria yang baik dan perhatian sifat itu membuat Laurence jatuh cinta padanya. Saat semasa mereka pacaran William selalu menyempatkan diri untuk menemani Laurence kemana pun Laurence inginkan, William selalu menyanyikan lagu-lagu romantic untuk Laurence, dan moment yang tidak akan pernah Laurence lupakan adalah saat mereka berlibur ke Disney Land. William memberikan boneka mickey mouse dan Minnie mouse saat mereka ke Disney Land, dan itu adalah hadiah William sat hari jadi mereka yang ke 5 bulan. Namun sebaik dan seromantis William, ia memiliki sifat yang buruk. Saat Laurence pergi ke festival rakyat ia tidak sengaja melihat William bersama wanita lain, dan saat itu Laurence sedang bersama Anna sahabat kecilnya. Laurence benar-benar marah, tanpa sadar ia menampar William dikerumunan warga London yang datang di festival rakyat itu, hatinya yang remuk dan emosi yang membakar hatinya membuat Laurence tega menampar William. Wanita yang bersama William hanya terdiam dan orang-orang yang semula sibuk dengan urusannya sendiri, memperhatikan Laurence yang memarahi William. Laurence langsung menarik tangan Anna dan pergi dari William, rasa sakit hati, emosi, dan malu bercampur satu. Malamnya William memutuskan untuk break 2 minggu. Laurence sangat menyesali semuanya, rasa benci dan sayang membuat ia frustasi. Hari ini adalah hari ke 12 ia berpisah dengan William, ia merasa seperti gadis bodoh yang menunggu cintanya itu kembali. Laurence pergi ke sekolah seperti biasanya dan menunggu bus sekolah di Halte. Ia memainkan tali tasnya sambil menunggu bus sekolah datang. Tak lama kemudian bus sekolah datang dan ia segera menaiki bus sekolah dan melihat sekeliling, semua kursi sudah penuh kecuali kursi yang paling belakang dan ada seorang pria berambut blonde duduk disebelah kursi itu. Saat Laurence duduk disebelahnya, pria itu
memberikan senyuman manis kepadanya. “hai.” Ucap pria itu sambil melihat kearah Laurence yang sedang membaca novel. “oh hallo.” Jawab Laurence disertai senyuman.

“perkenalkan namaku Niall James Horan, kamu bisa memanggilku Niall.”

“hmm namaku Allison Laurence, you can call me Laurence.”

“kamu yang sering meminjam buku novel di perpustakaan ya?”

“haah?? Iya loh kamu tau darimana?” Laurence heran dengan pria ini, kenapa ia tau kebiasaan Laurence yang sering meminjam buku novel!

“haha aku suka membaca daftar nama yang suka meminjam buku, waktu itu aku mau minjam buku Novel Story of us dan buku itu ada dikamu.”

“hahaha kamu mau meminjamnya? Aku udah selesai bacanya kok.” Kata Laurence sambil mengeluarkan buku Novel dari tasnya.

“hah? Yang benar, buku itukan sangat tebal dan kamu meminjamnya 2 hari yang lalu. Mana mungkin kamu bisa secepat itu membacanya.”

“hahaha tidak usah heran, aku memang suka membacanya jangan khawatir aku sudah selesai membacanya kok.”

“waaww!! Keren, kalo aku mungkin membacnya seminggu hahaha.”

“ya sudah, ini ambil saja.” Laurence memberikan novel itu kepada Niall. Mereka berbincang seperti yang sudah sangat akrab, padahal mereka baru berkenalan. Hal ini membuat Laurence perlahan-lahan bisa melupakan masalah yang menimpanya.

“terimakasih ya bukunya.” Kata Niall

“iya sama-sama.”

“sampai ketemu lagi.” Kata Niall dan berpisah dengan Laurence dikoridor kelas. Sepertinya Niall kelas 2A karena ia berjalan kearah sebelah kelas Laurence.


“semoga hari ini aku tidak bertemu dengannya.” Kata Laurence dalam hati sambil memejamkan matanya saat ia membuka matanya dan mulai melangkahkan kakinya ke kelas ia melihat sosok yang memang ia rindukan tapi rasanya sangat sakit saat melihatnya. Laurence mulai terpaku dan hanya diam didepan kelas melihat sosok William hatinya sakit namun ia sangat merindukan pria itu rasa sayangnya masih ada dalam hatinya rasanya ia ingin memeluk William seakan ia
menjadi miliknya lagi seperti dulu. Laurence bangun dari lamunannya dan ia sadar William sudah menyakitinya tapi ia bias bersabar untuk menunggu kepastiannya 2 hari lagi. Disaat belajar Laurence masih saja melamun ia tidak memperdulikan guru yang mengajar, ia memainkan pulpennya yang membuat suasana kelas sedikit terganggu. “hhhmmm… Laurence bias kau menaruh pulpenmu aku terganggu dengan suaranya.”kata Mr.Bob namun Laurence tidak mendengarnya sepertinya ia sangat serius dengan lamunannya. Mr.Bob mulai geram dan memukul keras meja Laurence, seketika Laurence pun bangun dari lamunannya itu. “Laurence kamu ini kenapa?!”kata Mr.Bob “a,a,aaaaku tidak apa-apa kok.”kata Laurence terbata-bata. “ya sudah fokuslah dengan pelajaran ini!”kata Mr.Bob dan kembali menerangkan kembali pelajarannya. Saat pulang sekolah Laurence hanya ditemani dengan Anna, biasanya ia pulang bersama William namun kini tidak. “apakah kamu merindukan William?”kata Anna. “tentu saja, aku masih menyayanginya. Bagiku sulit untuk melupakan orang yang kusayangi dalam waktu yang singkat its imposiblle. Aku tidak  bisa melakukannya.”jelas Laurence. “apakah kamu mau melupakannya?”kata Anna. “entahlah.”jawabnya singkat. “aku bisa membantumu untuk melupakan William. Tapi kalo kamu mau.”kata Anna

“mungkin aku bisa mencobanya.”                       

“kamu kenal Niall Horan?”

“tentu saja aku kenal dengannya baru saja tadi pagi aku berkenalan dengannya.”

“menurutmu dia bagaimana?”

“dia baik,friendly,dan kulihat dia juga tak kalah tampan dari William.”

“asal kamu tau Niall tadi meminta nomor telfonmu kepadaku saat istirahat tadi.”

“oh iya?!”

“iya, jangan-jangan dia suka sama kamu.”

“ah masa sih mana mungkin.” Laurence begitu tidak percaya seorang Niall Horan menyukainya padahal baru saja mereka berkenalan ini hanya mimpi!!!
Sesampainya dirumah Laurence langsung merebahkan tubuhnya kekasur yang empuk dan disekelilingnya banyak boneka-boneka teddy bear namun baginya sekarang adalah yang special adalah sepasang boneka mickey dan Minnie mouse yang mengingatkannya kepada sosok pria yang pernah singga dihatinya dan pernah menjadi miliknya saat itu. Namun karena sebuah kesalahan yang membuat hati Laurence hancur dating dan memisahkan mereka dalam waktu 2 minggu, waktu yang cukup lama. “bilang saja kamu tidak mencintaiku lagi dan  kau hanya menggantungku saja. Aku dibuat seperti wanita bodoh!!!!!”kata Laurence sambil memukul
keras ketembok sampai tangannya merah, tapi tidak ada rasa sakit sama sekali. Sampai-sampai Mom dating kekamarnya. “kau baik-baik saja sayang??”kata mom sambil membuka pintu kamar Laurence. “iya Mom.”jawab Laurence singkat. “menurut mom lebih baik kamu lupakan saja William, Mom takut dia hanya memainkan perasaanmu saja.”kata Mom sambil duduk disebelah Laurence. “aku ingin cepat cepat menunggu kepastian mom.”kata Laurence dengan tatapan penuh harapan matanya berbinar dan perlahan Laurence meneteskan air matanya. “sudah sayang, sebaiknya kamu ganti baju dan tidur siang ya.”kata Mom sambil mengelus halus rambut ikal putrinya itu. Setelah mengganti baju Laurence lansung merebahkan tubuhnya kembali keatas kasur dan mengambil ponselnya. Wallpaper ponselnya masih foto William dan Laurence di Disnye Land. Tanpa ia sadari William menelfonnya dan ia tidak mengangkatnya. Jantunnya berdetak kencang. “ada apa dia menelfonku? Bukannya waktu kami masih 2 hari lagi? Dia yang membuat perjanjian kenapa dia yang melanggar??” gerutu Laurence dan mencoba untuk menaruh kembali handphonenya dimeja, namun saat handphone itu baru ditaruh beberapa detik, handphonenya berbunyi dan lagi-lagi William menelfonnya.

OTP

L: hallo?

W: aku kira kamu gak bakal ngangkat telfonku.

L: maaf tadi aku baru buka hp

W: Laurence, aku mau jujur sama kamu.

L: jujur apa?

W: uuuumm… kalo aku masih sayang sama kamu, aku kangen sama kamu.

L: oh iya?

W: iya aku jujur ngatain ini semua

L: bukannya kamu janji 2 hari lagi??

W: iya sih tapi…

L: waktu kamu masih 2 hari lagi, aku cumin nunggu kepastian aja.

W: apa kamu masih sayang sama aku?

L: iyalah mana bias aku secepat itu buat ngelupain orang.

W: jaga diri kamu baik-baik ya.
L: iya makasih.

W: oh ya kamu tadi kenapa kok bias ditegur sama Mr.Bob?

L: itu bukan urusan kamu. *matiin telfon

Aku senang saat kau menelfonku tapi rasa kecewaku masih berada didalam hatiku. Rasanya susah menghilangkannya. Aku harap dia bias menepati janjinya.





Keesokan harinya Laurence kembali ke perpustakan dan meminjam buku novel, lagi-lagi ia bertemu dengan Niall. “hai, Laurence! Masih ingat aku??”kata Niall sambil menepuk bahu Laurence. “tentu saja aku masih mengenalmu,kan baru kemarin kita berkenalan.”kata Laurence dengan disertai senyumannya. “oh ya hari ini kan pulangnya lebih cepat mau gak kalo aku ngajak kamu makan?”kata Niall. Jantung Laurence berdetak 2 kali lebih kencang dari sebelumnya, benar tatapan Niall sangat berbeda saat menatap Laurence. Sebuah tanda-tanda tapi disisi lain ia masih mengharapkan William. Jika ia memilih keduanya ia sangat egois dan akan menyakiti hati keduanya. Namun kini Laurence sudah benar-benar menyukai Niall tapi ia masih menyayangi William, yang ia bayangkan saat ini adalah Niall dan William.

 Hari kedua pun tiba sekarang adalah keputusan William untuk mengatakan “we are never getting back together” atau “we get back again”. Laurence menunggu ditaman belakang sekolah, tempat yang mereka janjikan. Setelah menunggu beberapa menit William pun datang dan duduk disebelah Laurence.

“gimana keputusan kamu?” kata Laurence. William menatap dalam mata Laurence, hal itu sama seperti yang William lakukan saat dulu.

“aku mau we get back again, please. Kamu mau nerimanya kan?” ucap William sambil berlutut dan menggenggam tangan Laurence. Pikiran Laurence menjadi buyar, ia tidak tau apa yang harus ia jawab. Ia seudah terlanjur menyukai Niall dan Niall juga mempunyai rasa yang sama. Rasa sayangnya kepada William sudah mulai menipis. Laurence hanya terdiam.

“Laurence? Maafkan aku saat kejadian yang lalu. Aku mau bersamamu lagi, aku sadar aku salah dan aku bodoh saat itu. Aku mau bersamamu lagi, aku mencintaimu!” jelas William sambil mencium tangan Laurence.

“tidak semudah itu aku melupakan kejadian yang lalu. Aku sudah terlanjur sakit hati, tapi aku masih menyayangimu.” Kata Laurence, dan mulai meneteskan air mata.
“aku tau itu tapi maafkan aku Laurence.”kata William

Setelah 1 menit Laurence berpikir untuk mencari jawaban yang tepat, akhirnya Laurence pun memutuskan untuk. “aku akan kembali untukmu.” William pun memeluk erat Laurence dan membisikkan kata “I love you so much, and I can’t leave you alone.” Dan William mencium kening Laurence.

Bel pulang berbunyi dan Laurence kembali pulang sendirian, saat dijalan tangannya ditarik oleh seseorang dan Laurence membalikkan badannya kebelakang. Tepat seorang Niall yang menarik tangannya. “niall?” ucap Laurence. “hhmm.. kamu pulang sendirian kan?”kata Niall. “tidak!!! Dia pulang denganku!!” ucap tegas seorang lelaki yang juga menarik tangan Laurence. “William?!”. Kedua tangan Laurence dipegang oleh dua orang laki-laki yang mencintainya dan ia cintai. “Laurence, ayo pulang denganku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”kata William sambil menarik tangan Laurence. “tidak aku duluan yang mengajaknya!” ucap Niall dan menarik tangan Laurence. Mereka berdua saling menatap sengit. “sudah hentikan!!! Aku ingin pulang naik taksi!”kata Laurence dan melepaskan kedua tangannya dari mereka. “tapi Laurence, kamu kan pacarku?”ucap William. Namun Laurence menghiraukan mereka berdua dan terus berjalan dengan langkahnya yang cepat. Tetapi mereka berdua tetap mengikuti Laurence, sambil berebut untuk mendahului Laurence. “bisakah kalian tidak mengikutiku?!!”kata Laurence. “ma,ma,m,maaf Laurence. Aku hanya ingin meminjamkan novel ini.”ucap Niall sambil memberikan novel kepada Laurence dan meninggalkan Laurence dan William. Tampaknya Niall sedih saat melihat Laurence kembali bersama William, namun Laurence tidak bias memilih karena ia masih menyayangi William dan sesuatu yang akan ia lakukan nanti. “ayo pulang denganku saja!” kata William sambil merangkul pundak Laurence. Seperti biasa William selalu mengajak Laurence ke café tempat mereka kencan pertama. “kau ingat moment saat kita di café ini?”ucap William sambil menatap Laurence. “iya aku ingat, sangat ingat!”Laurence hanya tersenyum melihat langit yang mendung dan ia menghiraukan tatapan William. “Laurence, I Love You.”ucapan itu dilontarkan kembali oleh William. Laurence hanya menjawab singkat “me too Willi.” Pikirannya masih tertuju dengan kejadian yang tadi masih berkeliling didalam otaknya. Raut sedih Niall masih terbayang, rasanya Laurence sangat bersalah ia merasa sudah memberi harapan palsu kepada Niall.

 Niall POV
                Suasana sunyi halte bus yang melengkapi kesedihan seorang pria ini membuatnya semakin terbayang wajah  wanita yang ia sayangi kembai kepelukan seseorang yang pernah menyakiti perasaan wanita itu. Rasanya tidak rela melihat kejadian tadi, “aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya seorang teman baginya tidak melebihi itu. Namun aku berharap lebih.”ucap Niall dalam hati. Tentu saja hati seorang pria bisa seperti ini, resah dan sedih sama seperti yang pernah dialami banyak wanita. Wanita berambut ikal itu terus menjadi pusat pikirannya sekarang dan selalu berharap ia menjadi miliknya. “aku
harus memilikinya bagaimanapun caranya!!!!!”ucap Niall sambil menendang botol ketengah jalan. Ia pun melanjutkan kembali perjalanannya, saat itu pikirannya buyar kemana-mana dan tiba-tiba sebuah motor melaju kencang dan menyerempet dirinya dan terlempar ketrotoar. Tubuh Niall tergeletak lemah dan darah mengucur disekitar tangannya dan kakinya.

Author POV

                Tubuh Niall terbaring lemah diatas kasur empuk, namun bukan dikamarnya sendiri melainkan kamar pasien dirumah sakit, sosok wanita yang duduk menemaninya sambil memegang erat tangannya. Pandangan Niall masih belum terlalu jelas, tubuhnya lemas dan sulit menggerakkan anggota tubuhnya. “Niall kamu sudah sadar?”suara lembut wanita yang sering ia dengar menyapanya lebih awal. “Ibu???”ucap lemah Niall. Namun pandangannya beralih keseseorang yang berada dibelakang ibunya, senyuman manis itu mulai Niall kenali dan rambut ikal itu. “Laurence?” tangan Niall meraih tangan lembut gadis itu.”Niall, maafkan aku. Semua ini salahku, aku tau bagaimana perasaanmu tapi aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Sejujurnya aku menyayangimu sama sepertimu.” Mata indah itu meneteskan air mata, Laurence benar-benar menyesal sudah melakukan kesalahan yang membuat orang ia sayangi celaka. “bagaimana dengan William?”kata Niall, bola matanya melirik kesemua arah mencari keberadaan William, mungkin saja dia ada disini menemani Laurence. “aku sudah putus dengannya.”

“apa? Putus lagi?!”

“iya, dia tau kalau aku menyayangimu dan ia bisa memakluminya, dia tidak marah justru ia senang ada orang yang bisa membuatku tersenyum saat aku kesepian.”

“tapi apa ada rasa sayang padanya?”

“tentu saja ada, tapi hanya sebatas sahabat.”

Sebuah perkataan yang membuat hati Niall kembali seperti semula lagi, rasa kecewanya menghilang meskipun ia mengalami cidera sedang ia tidak merasakannya karena perkataan itu. “Laurence, aku hanya ingin mengatakan aku mencintaimu dan aku ingin kamu menjadi milikku.”ucap Niall dan menggenggam erat tangan Laurence. Seketika tatapan bola mata Laurence tertuju dengan wajah Niall dengan tatapan serius, Laurence hanya terdiam dan sangat sulit mengatakan sesuatu yang ingin ia ucapkan pada Niall. 10 menit berlalu, Niall masih menunggu jawaban Laurence dan tangannya masih menggenggam tangan Laurence. “iiiiyyaaa aku mau Niall dan aku mencintaimu sepertimu juga.” Niall pun menarik Laurence kepelukannya. Yang saat itu Niall merasakan perih cidera yang ia alami terobati dengan gadis ini.

                Sebuah cinta memang ada kaldaluarsanya namun cinta juga akan datang saat kita sendiriaan. Cinta memang sakit saat dijalani tapi sebuah obat untuk menyembuhkan sakit itu, dengan perhatian dan kasih sayang mungkin bisa terobati.

-          Don’t play with someone’s heart if you have no intensions for a serious relstionship.