Prolog: Aku menyesalinya, tapi aku menyayanginya. Ia meninggalkanku saat aku
benar-benar menyayanginya. Saat pertama ia berjanji kepadaku, ia tidak akan
pernah meninggalkanku dan akan melindungiku. Saat itu aku percaya padanya dan
aku tidak memikirkan kedepannya, namun kini janji itu sudah menghilang ia pergi
dan tidak melindungiku lagi. Antara benci dan cinta bercampur satu dalam
persaanku saat ini. Aku membencinya saat ia meninggalkanku, aku mencintainya
saat ia berada disampingku dan tidak akan meninggalkanku sendirian. Aku
berharap ia tahu perasaanku saat ini dan kembali kepelukan ku, namun apakah itu
akan terjadi? Apakah ada seseorang yang dapat menggantikannya? Apakah aku akan
sendirian? Hanya Tuhan yang tahu dan aku hanya menunggu.
Suasana
mendung yang menyelimuti langit kota London melengkapi kesedihan seorang gadis
cantik berambut ikal coklat ini. Mata biru berliannya itu tidak bisa berhenti
meneteskan air mata yang membasahi pipinya. Ia tidak bisa tidur semalaman hanya
memikirkan kekasihnya yang sudah 2 minggu mereka break (putus sementara) semua ini memang salah William yang membuat
hati Laurence sakit. William berjanji
padanya untuk merubah semua kesalahannya dan berusaha membahagiakan Laurence.
Laurence terus menangis dan menangis hanya sepasang boneka mickey dan Minnie
mouse yang menemaninya.
“sayang, ayo makan.” Suara lembut seorang wanita
membangunkan Laurence dari lamunannya. Laurence cepat-cepat mengelap pipinya
dan menghampiri wanita itu yang sering ia panggil Mom. “iya mom.” Tubuh
Laurence sangat lesu dan ia hanya tertunduk saat duduk diruang makan, makanan
yang begitu lezat tidak membuat Laurence terpancing untuk memakannya, biasanya
ia sangat senang saat ada makanan buatan Mom dihadapannya. “ayo makan, sudah
lupakan William. Mom tau kamu pasti sakit hati tapi jangan menyiksa diri. Lihat
berat badanmu turun.” Kata Mom sambil memegang lembut rambut putrinya. Laurence
hanya terdiam dan ia memainkan sendok dan garpu, pandangan matanya kosong dan
entah apa yang ia pikirkan. Mom sudah beberapa kali untuk membuat putrinya
tenang namun Laurence tetap tidak bisa berhenti memikirkan William. William
adalah cinta pertamanya di SMA, William adalah pria yang baik dan perhatian
sifat itu membuat Laurence jatuh cinta padanya. Saat semasa mereka pacaran
William selalu menyempatkan diri untuk menemani Laurence kemana pun Laurence
inginkan, William selalu menyanyikan lagu-lagu romantic untuk Laurence, dan
moment yang tidak akan pernah Laurence lupakan adalah saat mereka berlibur ke
Disney Land. William memberikan boneka mickey mouse dan Minnie mouse saat
mereka ke Disney Land, dan itu adalah hadiah William sat hari jadi mereka yang
ke 5 bulan. Namun sebaik dan seromantis William, ia memiliki sifat yang buruk.
Saat Laurence pergi ke festival rakyat ia tidak sengaja melihat William bersama
wanita lain, dan saat itu Laurence sedang bersama Anna sahabat kecilnya.
Laurence benar-benar marah, tanpa sadar ia menampar William dikerumunan warga
London yang datang di festival rakyat itu, hatinya yang remuk dan emosi yang
membakar hatinya membuat Laurence tega menampar William. Wanita yang bersama
William hanya terdiam dan orang-orang yang semula sibuk dengan urusannya
sendiri, memperhatikan Laurence yang memarahi William. Laurence langsung
menarik tangan Anna dan pergi dari William, rasa sakit hati, emosi, dan malu
bercampur satu. Malamnya William memutuskan untuk break 2 minggu. Laurence sangat menyesali semuanya, rasa benci dan
sayang membuat ia frustasi. Hari ini adalah hari ke 12 ia berpisah dengan William,
ia merasa seperti gadis bodoh yang menunggu cintanya itu kembali. Laurence
pergi ke sekolah seperti biasanya dan menunggu bus sekolah di Halte. Ia
memainkan tali tasnya sambil menunggu bus sekolah datang. Tak lama kemudian bus
sekolah datang dan ia segera menaiki bus sekolah dan melihat sekeliling, semua
kursi sudah penuh kecuali kursi yang paling belakang dan ada seorang pria
berambut blonde duduk disebelah kursi itu. Saat Laurence duduk disebelahnya,
pria itu
memberikan
senyuman manis kepadanya. “hai.” Ucap pria itu sambil melihat kearah Laurence
yang sedang membaca novel. “oh hallo.” Jawab Laurence disertai senyuman.
“perkenalkan
namaku Niall James Horan, kamu bisa memanggilku Niall.”
“hmm namaku
Allison Laurence, you can call me Laurence.”
“kamu yang
sering meminjam buku novel di perpustakaan ya?”
“haah?? Iya
loh kamu tau darimana?” Laurence heran dengan pria ini, kenapa ia tau kebiasaan
Laurence yang sering meminjam buku novel!
“haha aku
suka membaca daftar nama yang suka meminjam buku, waktu itu aku mau minjam buku
Novel Story of us dan buku itu ada dikamu.”
“hahaha kamu
mau meminjamnya? Aku udah selesai bacanya kok.” Kata Laurence sambil
mengeluarkan buku Novel dari tasnya.
“hah? Yang
benar, buku itukan sangat tebal dan kamu meminjamnya 2 hari yang lalu. Mana
mungkin kamu bisa secepat itu membacanya.”
“hahaha
tidak usah heran, aku memang suka membacanya jangan khawatir aku sudah selesai
membacanya kok.”
“waaww!!
Keren, kalo aku mungkin membacnya seminggu hahaha.”
“ya sudah,
ini ambil saja.” Laurence memberikan novel itu kepada Niall. Mereka berbincang
seperti yang sudah sangat akrab, padahal mereka baru berkenalan. Hal ini
membuat Laurence perlahan-lahan bisa melupakan masalah yang menimpanya.
“terimakasih
ya bukunya.” Kata Niall
“iya
sama-sama.”
“sampai
ketemu lagi.” Kata Niall dan berpisah dengan Laurence dikoridor kelas.
Sepertinya Niall kelas 2A karena ia berjalan kearah sebelah kelas Laurence.
menjadi
miliknya lagi seperti dulu. Laurence bangun dari lamunannya dan ia sadar
William sudah menyakitinya tapi ia bias bersabar untuk menunggu kepastiannya 2
hari lagi. Disaat belajar Laurence masih saja melamun ia tidak memperdulikan
guru yang mengajar, ia memainkan pulpennya yang membuat suasana kelas sedikit terganggu.
“hhhmmm… Laurence bias kau menaruh pulpenmu aku terganggu dengan suaranya.”kata
Mr.Bob namun Laurence tidak mendengarnya sepertinya ia sangat serius dengan
lamunannya. Mr.Bob mulai geram dan memukul keras meja Laurence, seketika
Laurence pun bangun dari lamunannya itu. “Laurence kamu ini kenapa?!”kata
Mr.Bob “a,a,aaaaku tidak apa-apa kok.”kata Laurence terbata-bata. “ya sudah
fokuslah dengan pelajaran ini!”kata Mr.Bob dan kembali menerangkan kembali
pelajarannya. Saat pulang sekolah Laurence hanya ditemani dengan Anna, biasanya
ia pulang bersama William namun kini tidak. “apakah kamu merindukan
William?”kata Anna. “tentu saja, aku masih menyayanginya. Bagiku sulit untuk melupakan orang yang kusayangi dalam waktu yang
singkat its imposiblle. Aku tidak bisa
melakukannya.”jelas Laurence. “apakah kamu mau melupakannya?”kata Anna.
“entahlah.”jawabnya singkat. “aku bisa membantumu untuk melupakan William. Tapi
kalo kamu mau.”kata Anna
“mungkin aku bisa mencobanya.”
“kamu kenal Niall Horan?”
“tentu saja aku kenal dengannya baru saja tadi pagi aku
berkenalan dengannya.”
“menurutmu dia bagaimana?”
“dia baik,friendly,dan kulihat dia juga tak kalah tampan dari
William.”
“asal kamu tau Niall tadi meminta nomor telfonmu kepadaku
saat istirahat tadi.”
“oh iya?!”
“iya, jangan-jangan dia suka sama kamu.”
“ah masa sih mana mungkin.” Laurence begitu tidak percaya
seorang Niall Horan menyukainya padahal baru saja mereka berkenalan ini hanya
mimpi!!!
Sesampainya dirumah Laurence langsung merebahkan
tubuhnya kekasur yang empuk dan disekelilingnya banyak boneka-boneka teddy bear
namun baginya sekarang adalah yang special adalah sepasang boneka mickey dan
Minnie mouse yang mengingatkannya kepada sosok pria yang pernah singga
dihatinya dan pernah menjadi miliknya saat itu. Namun karena sebuah kesalahan
yang membuat hati Laurence hancur dating dan memisahkan mereka dalam waktu 2
minggu, waktu yang cukup lama. “bilang saja kamu tidak mencintaiku lagi
dan kau hanya menggantungku saja. Aku
dibuat seperti wanita bodoh!!!!!”kata Laurence sambil memukul
keras ketembok sampai tangannya merah, tapi tidak ada rasa
sakit sama sekali. Sampai-sampai Mom dating kekamarnya. “kau baik-baik saja
sayang??”kata mom sambil membuka pintu kamar Laurence. “iya Mom.”jawab Laurence
singkat. “menurut mom lebih baik kamu lupakan saja William, Mom takut dia hanya
memainkan perasaanmu saja.”kata Mom sambil duduk disebelah Laurence. “aku ingin
cepat cepat menunggu kepastian mom.”kata Laurence dengan tatapan penuh harapan
matanya berbinar dan perlahan Laurence meneteskan air matanya. “sudah sayang,
sebaiknya kamu ganti baju dan tidur siang ya.”kata Mom sambil mengelus halus
rambut ikal putrinya itu. Setelah mengganti baju Laurence lansung merebahkan
tubuhnya kembali keatas kasur dan mengambil ponselnya. Wallpaper ponselnya
masih foto William dan Laurence di Disnye Land. Tanpa ia sadari William
menelfonnya dan ia tidak mengangkatnya. Jantunnya berdetak kencang. “ada apa
dia menelfonku? Bukannya waktu kami masih 2 hari lagi? Dia yang membuat
perjanjian kenapa dia yang melanggar??” gerutu Laurence dan mencoba untuk
menaruh kembali handphonenya dimeja, namun saat handphone itu baru ditaruh
beberapa detik, handphonenya berbunyi dan lagi-lagi William menelfonnya.
OTP
L: hallo?
W: aku kira kamu gak bakal ngangkat telfonku.
L: maaf tadi aku baru buka hp
W: Laurence, aku mau jujur sama kamu.
L: jujur apa?
W: uuuumm… kalo aku masih sayang sama kamu, aku kangen sama
kamu.
L: oh iya?
W: iya aku jujur ngatain ini semua
L: bukannya kamu janji 2 hari lagi??
W: iya sih tapi…
L: waktu kamu masih 2 hari lagi, aku cumin nunggu kepastian
aja.
W: apa kamu masih sayang sama aku?
L: iyalah mana bias aku secepat itu buat ngelupain orang.
W: jaga diri kamu baik-baik ya.
L: iya makasih.
W: oh ya kamu tadi kenapa kok bias ditegur sama Mr.Bob?
L: itu bukan urusan kamu. *matiin telfon
Aku senang saat kau menelfonku tapi rasa kecewaku masih
berada didalam hatiku. Rasanya susah menghilangkannya. Aku harap dia bias
menepati janjinya.
Keesokan harinya Laurence kembali ke perpustakan dan meminjam
buku novel, lagi-lagi ia bertemu dengan Niall. “hai, Laurence! Masih ingat
aku??”kata Niall sambil menepuk bahu Laurence. “tentu saja aku masih mengenalmu,kan
baru kemarin kita berkenalan.”kata Laurence dengan disertai senyumannya. “oh ya
hari ini kan pulangnya lebih cepat mau gak kalo aku ngajak kamu makan?”kata
Niall. Jantung Laurence berdetak 2 kali lebih kencang dari sebelumnya, benar
tatapan Niall sangat berbeda saat menatap Laurence. Sebuah tanda-tanda tapi
disisi lain ia masih mengharapkan William. Jika ia memilih keduanya ia sangat
egois dan akan menyakiti hati keduanya. Namun kini Laurence sudah benar-benar
menyukai Niall tapi ia masih menyayangi William, yang ia bayangkan saat ini
adalah Niall dan William.
Hari kedua pun tiba
sekarang adalah keputusan William untuk mengatakan “we are never getting back
together” atau “we get back again”. Laurence menunggu ditaman belakang sekolah,
tempat yang mereka janjikan. Setelah menunggu beberapa menit William pun datang
dan duduk disebelah Laurence.
“gimana keputusan kamu?” kata Laurence. William menatap dalam
mata Laurence, hal itu sama seperti yang William lakukan saat dulu.
“aku mau we get back again, please. Kamu mau nerimanya kan?”
ucap William sambil berlutut dan menggenggam tangan Laurence. Pikiran Laurence
menjadi buyar, ia tidak tau apa yang harus ia jawab. Ia seudah terlanjur
menyukai Niall dan Niall juga mempunyai rasa yang sama. Rasa sayangnya kepada
William sudah mulai menipis. Laurence hanya terdiam.
“Laurence? Maafkan aku saat kejadian yang lalu. Aku mau
bersamamu lagi, aku sadar aku salah dan aku bodoh saat itu. Aku mau bersamamu
lagi, aku mencintaimu!” jelas William sambil mencium tangan Laurence.
“tidak semudah itu aku melupakan kejadian yang lalu. Aku sudah
terlanjur sakit hati, tapi aku masih menyayangimu.” Kata Laurence, dan mulai
meneteskan air mata.
“aku tau itu tapi maafkan aku Laurence.”kata William
Setelah 1 menit Laurence berpikir untuk mencari jawaban yang
tepat, akhirnya Laurence pun memutuskan untuk. “aku akan kembali untukmu.”
William pun memeluk erat Laurence dan membisikkan kata “I love you so much, and
I can’t leave you alone.” Dan William mencium kening Laurence.
Bel pulang berbunyi dan Laurence kembali pulang sendirian,
saat dijalan tangannya ditarik oleh seseorang dan Laurence membalikkan badannya
kebelakang. Tepat seorang Niall yang menarik tangannya. “niall?” ucap Laurence.
“hhmm.. kamu pulang sendirian kan?”kata Niall. “tidak!!! Dia pulang denganku!!”
ucap tegas seorang lelaki yang juga menarik tangan Laurence. “William?!”. Kedua
tangan Laurence dipegang oleh dua orang laki-laki yang mencintainya dan ia
cintai. “Laurence, ayo pulang denganku. Aku tidak akan meninggalkanmu
lagi.”kata William sambil menarik tangan Laurence. “tidak aku duluan yang
mengajaknya!” ucap Niall dan menarik tangan Laurence. Mereka berdua saling
menatap sengit. “sudah hentikan!!! Aku ingin pulang naik taksi!”kata Laurence
dan melepaskan kedua tangannya dari mereka. “tapi Laurence, kamu kan
pacarku?”ucap William. Namun Laurence menghiraukan mereka berdua dan terus
berjalan dengan langkahnya yang cepat. Tetapi mereka berdua tetap mengikuti
Laurence, sambil berebut untuk mendahului Laurence. “bisakah kalian tidak
mengikutiku?!!”kata Laurence. “ma,ma,m,maaf Laurence. Aku hanya ingin
meminjamkan novel ini.”ucap Niall sambil memberikan novel kepada Laurence dan
meninggalkan Laurence dan William. Tampaknya Niall sedih saat melihat Laurence
kembali bersama William, namun Laurence tidak bias memilih karena ia masih
menyayangi William dan sesuatu yang akan ia lakukan nanti. “ayo pulang denganku
saja!” kata William sambil merangkul pundak Laurence. Seperti biasa William
selalu mengajak Laurence ke café tempat mereka kencan pertama. “kau ingat
moment saat kita di café ini?”ucap William sambil menatap Laurence. “iya aku
ingat, sangat ingat!”Laurence hanya tersenyum melihat langit yang mendung dan
ia menghiraukan tatapan William. “Laurence, I Love You.”ucapan itu dilontarkan
kembali oleh William. Laurence hanya menjawab singkat “me too Willi.”
Pikirannya masih tertuju dengan kejadian yang tadi masih berkeliling didalam
otaknya. Raut sedih Niall masih terbayang, rasanya Laurence sangat bersalah ia
merasa sudah memberi harapan palsu kepada Niall.
Niall POV
Suasana
sunyi halte bus yang melengkapi kesedihan seorang pria ini membuatnya semakin
terbayang wajah wanita yang ia sayangi
kembai kepelukan seseorang yang pernah menyakiti perasaan wanita itu. Rasanya
tidak rela melihat kejadian tadi, “aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya seorang
teman baginya tidak melebihi itu. Namun aku berharap lebih.”ucap Niall dalam
hati. Tentu saja hati seorang pria bisa seperti ini, resah dan sedih sama
seperti yang pernah dialami banyak wanita. Wanita berambut ikal itu terus menjadi
pusat pikirannya sekarang dan selalu berharap ia menjadi miliknya. “aku
harus memilikinya bagaimanapun caranya!!!!!”ucap Niall
sambil menendang botol ketengah jalan. Ia pun melanjutkan kembali
perjalanannya, saat itu pikirannya buyar kemana-mana dan tiba-tiba sebuah motor
melaju kencang dan menyerempet dirinya dan terlempar ketrotoar. Tubuh Niall
tergeletak lemah dan darah mengucur disekitar tangannya dan kakinya.
Author POV
Tubuh
Niall terbaring lemah diatas kasur empuk, namun bukan dikamarnya sendiri
melainkan kamar pasien dirumah sakit, sosok wanita yang duduk menemaninya
sambil memegang erat tangannya. Pandangan Niall masih belum terlalu jelas,
tubuhnya lemas dan sulit menggerakkan anggota tubuhnya. “Niall kamu sudah
sadar?”suara lembut wanita yang sering ia dengar menyapanya lebih awal.
“Ibu???”ucap lemah Niall. Namun pandangannya beralih keseseorang yang berada
dibelakang ibunya, senyuman manis itu mulai Niall kenali dan rambut ikal itu.
“Laurence?” tangan Niall meraih tangan lembut gadis itu.”Niall, maafkan aku.
Semua ini salahku, aku tau bagaimana perasaanmu tapi aku tidak bermaksud untuk
menyakitimu. Sejujurnya aku menyayangimu sama sepertimu.” Mata indah itu
meneteskan air mata, Laurence benar-benar menyesal sudah melakukan kesalahan
yang membuat orang ia sayangi celaka. “bagaimana dengan William?”kata Niall,
bola matanya melirik kesemua arah mencari keberadaan William, mungkin saja dia
ada disini menemani Laurence. “aku sudah putus dengannya.”
“apa? Putus lagi?!”
“iya, dia tau kalau aku menyayangimu dan ia bisa
memakluminya, dia tidak marah justru ia senang ada orang yang bisa membuatku
tersenyum saat aku kesepian.”
“tapi apa ada rasa sayang padanya?”
“tentu saja ada, tapi hanya sebatas sahabat.”
Sebuah perkataan yang membuat hati Niall kembali seperti
semula lagi, rasa kecewanya menghilang meskipun ia mengalami cidera sedang ia
tidak merasakannya karena perkataan itu. “Laurence, aku hanya ingin mengatakan
aku mencintaimu dan aku ingin kamu menjadi milikku.”ucap Niall dan menggenggam
erat tangan Laurence. Seketika tatapan bola mata Laurence tertuju dengan wajah
Niall dengan tatapan serius, Laurence hanya terdiam dan sangat sulit mengatakan
sesuatu yang ingin ia ucapkan pada Niall. 10 menit berlalu, Niall masih
menunggu jawaban Laurence dan tangannya masih menggenggam tangan Laurence.
“iiiiyyaaa aku mau Niall dan aku mencintaimu sepertimu juga.” Niall pun menarik
Laurence kepelukannya. Yang saat itu Niall merasakan perih cidera yang ia alami
terobati dengan gadis ini.
Sebuah
cinta memang ada kaldaluarsanya namun cinta juga akan datang saat kita
sendiriaan. Cinta memang sakit saat dijalani tapi sebuah obat untuk
menyembuhkan sakit itu, dengan perhatian dan kasih sayang mungkin bisa
terobati.
-
Don’t play with someone’s heart if you have no
intensions for a serious relstionship.